Apakah “A” selalu yang terbaik?

November 1, 2008

Saya mendapatkan inspirasi untuk menulis blog ini setelah kemarin saya mengobrol dengan salah satu teman 1 kosan saya. Kami sedang bersenda gurau dan menceritakan pengalaman kami dengan ayah kami. Sebelum itu kami menonton film yang berjudul “Rec”, anda harus menontonnya jika anda mau saat2 anda yang santai menjadi sangat tegang. Sudah sudah, itu hanya sedikit intermezzo, tapi film itu memang benar benar membuat jantung berdegup dengan cepat seperti ketika anda sedang lari sprint karena dikejar oleh badak. Kami terus bersenda gurau sampai suatu saat dia bercerita tentang sesuatu yang membuat saya sedikit berpikir keras dan menyimpulkan sesuatu. 

Teman saya yang satu ini sangat bersemangat jika dia menceritakan sebuah cerita, dan itu yang membuat cerita ini semakin menarik. Sebenarnya cerita ini berasal dari ayah teman saya ini, kita bisa menyebutnya Mr”I”. Anda yang sedang menjalani pendidikan di SBM ITB dari tahun 2006 pasti tau siapa dia karena selain anaknya, ayahnya pun sangat terkenal di kalangan SBM ITB 2009. Mulailah teman saya ini bercerita, dia berkata kepada saya bahwa beberapa waktu lalu ayahnya (Mr.I) bertemu dengan salah satu dosen ITB yang pernah mengajar dia dulu. Mereka bertemu di Soekarno Hatta, bagi anda yang tidak tau, itu adalah bandara Internasional negara Indonesia. Ketika itu, sang dosen sedang bersama para asistennya yang berupa dosen juga tapi tentunya tidak memiliki otak seencer dosen utama itu. Oh ya, bagi anda yang belum mengetahui siapa Mr.I, dia adalah alumni ITB angkatan ’76 jurusan teknik kimia. Jadi anda bisa mencari datanya jika anda masih penasaran, atau yang paling gampang ya anda tinggal bertanya kepada saya.

Ketika mereka bertemu, Mr.I berkata kepada dosen itu “ah saya malu saya bertemu bapak, soalnya waktu dulu mata kuliah bapak saya selalu mendapatkan nilai C”. Lalu dosen itu pun menjawab “wah, nilai C itu sudah bagus jika anda kuliah di ITB, karena itu sudah setingkat menteri” (dia menyebutkan satu menteri yang adalah alumni ITB dan selalu mendapatkan C). Dosen itu pun melanjutkan kalimat kalimatnya yang berubah menjadi ceramah singkat “jika kamu mendapatkan nilai D, itu lebih bagus lagi karena yang mendapatkan nilai D itu biasanya menjadi pengusaha dan menteri” (dia menyebutkan salah satu nama pengusaha sekaligus menteri yang sukses dan dia selalu mendapatkan nilai D pada saat belajar di ITB). Selanjutnya dia berkata “dan bila kamu mendapatkan nilai A dan B di ITB, maka kamu hanya akan menjadi para dosen dan pembantunya seraya menunjuk 3 asisten yang berdiri di sebelahnya”.

Cerita itu benar – benar membuat saya berpikir. “Apakah “A” selalu yang terbaik?”. Setelah saya memikirkan hal itu, saya menyimpulkan bahwa nilai A tidak selalu yang terbaik. Lalu apakah saya setuju kalau nilai C dan D itu adalah yang terbaik?Tidak. Yang saya simpulkan dari cerita teman saya itu adalah bukan nilainya yang menjadi permasalahannya tapi mengapa kita bisa mendapatkan nilai itu. Seperti contohnya ketika seseorang mendapatkan nilai C, mungkin dia memang tidak belajar dala pelajaran itu, tapi dia melakukan sesuatu yang lain seperti menjalin koneksi untuk bisnisnya, membantu ayah atau ibunya dalam pekerjaannya, mencari modal untuk bisnisnya, melakukan kegiatan sosial, dll. 

So, i think the matter is not the “A” or the “C”, but it’s what behind that “A” or “C”. 

Advertisements

17 Responses to “Apakah “A” selalu yang terbaik?”

  1. indomiejunkie Says:

    kalimat pnutupnya elo bgt tuh lung. tp sblmnya, gw pgn nanya. apakah yg mentri2 dan pngusaha2 yg dpt C itu tdk belajar karena memang melakukan pekerjaan lain saat berkuliah dulu? apakah ada bukti yg mngatakan demikian? atau anda menggunakan kalimat penutup itu hanya utk mnghibur org2 yg udh bljr keras demi mndptkan sebuah A?

  2. ayamcobek Says:

    maksudnya apa tuh gw bgt??ga ngerti gw. tp intinya gw ga menghibur, maksud gw nulis blog ini malah diantaranya supaya orang2 yang belajar keras demi sebuah A lebih memperhatikan apa yang ada dibalik nilai itu. Kalo dia dapet “C” ato “A”, asalkan yang ada di belakang nilai2 itu adalah hal yang dia yakini dapat membuat hidupnya lebih baik, menurut saya itu sama baiknya atau malah lebih baik daripada dapat “A” tanpa sadar untuk apa “A” itu.. kalo anda bertanya bukti, tentu saya tidak punya buktinya. kan sudah saya bilang sebelumnya kalo itu hanya asumsi dan kesimpulan dari saya pribadi….setuju atau tidak kan terserah pada anda… Tapi itulah makna yang saya dapat dari cerita teman saya

  3. indomiejunkie Says:

    oh see see. ok ok. elo bgt dah pokonya penutupnya. yg di lelaki jalang yg ngmgin stanford vs sbm jg bgtu model kalimatnya

  4. mysters Says:

    namun pada kenyataannya perihal “A” atau “C”, di sini di mana kita berdiri, tetap dijadikan tolak ukur untuk pencapaian sesuatu bukan? kadang2 apa yg ada dibaliknya tidak diperdulikan sayangnya

  5. ayamcobek Says:

    justru saya disini berbicara tentang kenyataan.. diperdulikan atau tidaknya itu tergantung pada apa yang ada dibaliknya dan dari sudut pandang mana anda melihatnya.. bila yang ada di baliknya adalah sesuatu yang berguna di masa yang akan datang, apakah yang anda bilang tolak ukur untuk pencapaian sesuatu itu akan lebih bermanfaat dibanding apa yang ada dibalik “A” atau”C” itu sendiri pada nantinya? karena kita berjuang untuk masa yang akan datang, bukan hanya untuk pencapaian sesaat.

  6. mysters Says:

    setuju, memang bukan hanya untuk pencapaian sesaat. saya juga yakin tidak semua, segala sesuatunya hal yg berguna membutuhkan tolak ukur tersebut, hanya beberapa hal tertentu yg memang begitu adanya. tp saya sadar, memang yg dibaliknyalah yg terpenting, bcos life is may much more than abc, dont u think?

  7. nisanisyo Says:

    totally agree


  8. hai penulis, this idea about idea u should read on plato “allegory of the cave”. dimana manusia kebanyakan terbatas didunia fisik saja, bukan dunia ide yang mendahului terjadinya konsep value dari abc yang anda bilang. debat form atau content seharusnya dilihat dari kacamata berbeda, karena tidak bakal bisa disamaratakan. bagaimana packaging nilai A dengan content nilai A dibaliknya adalah dua buah pemikiran yang berbeda, jadi harus ada yang bisa menjembataninya agar bisa dikompromikan antara argumen2 diatas. 🙂

  9. sabisurabi Says:

    super setuju, lung.
    grade isn’t everything.
    yang pnting adalah ilmu yg bkin lo dpet nilai itu.
    apakah lo budidayakan, atau tidak.
    nilai doang tp lo ga ngapa2in sm aja bo’ong..
    hahaha.

  10. Farah Fadilla Says:

    aduuuh setuju banget, ngga.
    grade agaknya kurang penting.
    yg penting aplikasi dan buat apa itu ilmu dipake.
    hehehe

    orang klo kepinteran, ga baek jg buat kesehatan,
    jasmani dan rohani. hahaha

  11. Anggita Dwiyani Says:

    wah lung gw stuju bgt sm lo.. cm sayangnya dunia pekerjaan berkata lain.. klo ipk g bagus susah dpt pekerjaan, ya ga?

  12. yoshee Says:

    wew.
    gw jadi kesindir ga yaa?
    *ga penting abis.

    tapi gw setuju koks. yg namanya achievement, apapun itu (ga mesti grade A), ya mesti lo lakuin demi kepuasan lo sendiri, ya termasuk dengan bertanggung jawab sepenuhnya akan nilai itu. mulai dari progress sampe aplikasi ntar. makanya yg penting lo tau apa yg lo raih, dan apa aja yg udah lo lakuin utk itu.

    cheers!!
    ^^

  13. raisa Says:

    benar sekali lung. seharusnya menjadikan sebuah mata pelajaran untuk dimengerti bukan untuk mencapai nilai A nya saja. tapi terkadang si A masih menjadi patokan yang kuat bagi sebagian orang untuk menilai orang lain. Layaknya bapak dan ibuku yang mukanya akan tersenyum sumringah apabila anaknya mendapat nilai A dan bermuram durja apabila si anak mendapat nilai D. hehehe

  14. ayamcobek Says:

    iya.. makanya saya setuju dengan komen dari phantasmgoria yang menyebutkan bahwa cara berpikir saya dengan orang yang melihat packaging nilai A itu memang tidak bisa disamaratakan.. karena saya belum menemukan hal yang bisa menjembataninya…tapi saya sangat berterimakasih atas komen2nya…


  15. menurut gw cuma masalah waktu sih

    ada kala A itu Underrated
    ada kala C itu Overrated


  16. you’ve been tag lung..
    see my new post..

  17. sabisurabi Says:

    yak. ayo gus, kita tag orang2!

    YOU’VE BEEN TAGGED.
    untuk keterangan lebih lanjut, baca postingan terakhir gw..
    cheers!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: